Ada Perang Yang Tak Kamu Lihat


Ashira duduk di sudut ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar jendela. Suara tawa keluarganya terdengar jauh, tapi Ashira merasa seolah dia sendiri di dunia ini. Sebagai anak bungsu, banyak yang mengira hidupnya mudah, manja, tak pernah berpikir tentang apa pun kecuali kesenangan dan kebahagiaan sesaat. Tersenyum, tertawa, bercanda — itu adalah peran yang harus dia mainkan.

Tapi apa yang tak mereka tahu adalah bahwa Ashira selalu merasa terperangkap. Setiap kali dia berbicara, tertawa, atau bersenang-senang dengan teman-temannya, ada sebuah bayangan besar di dalam dirinya yang tak bisa dihindari: “Apa aku bisa sukses? Apa orang tuaku akan bangga padaku?”

Dia merasa seperti harus terus menutup rapat-rapat rasa takut itu. “Kamu anak bungsu, pasti nggak pernah mikirin apa-apa,” kata mereka. Ashira tahu itu, tapi hanya dia yang tahu betapa setiap malamnya dipenuhi dengan kecemasan yang menyesakkan. Setiap malam, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan yang tak pernah bisa dia jawab: "Apa aku cukup baik? Bisa nggak aku memenuhi harapan orang lain? Apa aku akan terus seperti ini, atau ada sesuatu yang lebih besar yang bisa aku capai?"

Dia sering kali merasa ingin berteriak, mengatakan kepada dunia bahwa di balik senyum itu, ada seseorang yang benar-benar takut—takut jika semua orang hanya melihatnya sebagai anak yang manja, yang tak pernah memikirkan masa depan. Tapi entah kenapa, dia merasa seperti dia tak punya hak untuk mengungkapkan itu. Tak ada yang bisa mengerti.

Dan hari ini, semuanya semakin terasa berat. Ashira bertemu dengan teman-temannya, tertawa, berbicara tentang segala hal. Tapi begitu mereka pulang, rasa itu datang lagi, menggerogoti. Kenapa dia harus berbicara terlalu banyak? Kenapa dia harus menunjukkan sisi cerianya? "Apakah mereka benar-benar bahagia bersamaku, atau aku hanya mengganggu mereka?" pikirnya. Semua percakapan diputar ulang, seolah-olah dia ingin mencari kesalahan pada setiap kalimat yang terucap.

“Kamu nggak usah terlalu mikirin apa yang orang lain pikirkan,” pesan dari Indy muncul di layar ponselnya. Ashira menatap pesan itu, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Tapi dia tahu, jauh di dalam hatinya, pesan itu tak pernah cukup. Meskipun Indy selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu banyak berpikir, Ashira merasa kesepian. Karena kenyataannya, tak ada yang bisa mengerti beban yang dia bawa.

Setiap malam, ketika semua terlelap, Ashira terjaga dengan perasaan yang semakin menyesakkan. Hatinya bertanya, “Apa aku akan terus terjebak di dalam bayanganku sendiri? Apa yang aku kejar di dunia ini? Apakah aku cukup berani untuk menghadapi apa yang ada di depan?”

Akhirnya, air mata yang sejak tadi ditahan jatuh juga. Bukan karena dia manja, tapi karena dia merasa begitu rapuh. Dia ingin lebih dari sekadar anak bungsu yang dianggap tak tahu apa-apa. Dia ingin jadi seseorang yang bisa bangga dengan dirinya sendiri. Tapi untuk itu, dia harus menghadapi semua rasa takut yang selama ini disembunyikannya.

Ashira hanya ingin satu hal:di tengah semua keraguan dan suara di kepalanya,dia ingin bisa bilang ke dirinya sendiri..."aku cukup"

              -shakila

Komentar